Start-up Go Goblik

Start-up Go Goblik
startup

Setiap hari lahir puluhan bahkan ratusan start-up baru. Namun setiap hari start-up yang mati juga banyak sekali. Semakin sedikitnya lapangan pekerjaan menjadi salah satu sebab anak-anak muda memilih bikin start-up. Selain itu saat ini bisa bikin start-up dan jadi CEO itu keren banget..sounds great. Padahal sebenarnya bikin start-up dan jadi CEOnya sendiri itu sekarang sesuatu yang mudah banget: Sehari bisa jadi dan gratis asal mau…wkwk. Jadi jika anda bangga, maka itu sungguh suatu kegoblikan yang nyata…hehe. Tapi kalau sekedar buat gagah-gagahan biodata dan lebih pede sowan calon mertua sih nggak masalah, karena mereka juga ngga bakal terlalu ngerti juga terminologi yang njlimet soal start-up dan e-commerce.

Salah satu problem yang sering tak disadari adalah para pemain besar wabilkhusus Marketplace dalam ekosistem e-comerce di Indonesia saat ini sama sekali belum bisa kasih contoh yang baik dan kultur yg sehat+kondusif untuk penumbuhan start-up/UMKMers di Indonesia. Setiap hari yang diperlihatkan mereka (maaf) hanyalah cara-cara purba yang menunjukkan kreatifitas terendah dalam berjualan, yakni : bonus, promo, potongan harga, jual paling murah , dlsb. Bahkan modusnya akhir-akhir ini malah semakin brutal dalam akuisisi customer. Begitu daftar langsung dikasih voucher 😬 gila kan ?

Padahal setiap acara kumpul e-comerce selalu saja digembar-gemborkan empowerment alias pemberdayaan UMKM, jadilah start-up yang tangguh dan berdaya saing, kasih pelayanan terbaik, gunakan teknologi, bikin brand yang kuat, juallah value beyond product, temukan niche market yang kuat, bisnis yang bener jangan cuma jualan doang, bla…bla…bla. Ngga ada yang salah dengan itu, hanya ada yang paradoks dengan realitasnya.

Bagi mereka modus itu sah-sah saja dan nggak ada yang salah. Bahkan konon emang mereka harus melakukan itu demi memenangkan persaingan. Karena mereka para pemain gedhe selalu punya rumus “the winner will takes all”, yang terkuat akan jadi pemenang. Kata orang tua dulu “asu gedhe menang kerahe”. Mereka akan bakar uang selama masih ada demi target tertentu, kumpulin crowd sebanyak-banyaknya dan create customer dari situ. Dan luar biasanya cara-cara bakar duit yang “nggak kreatif” itu memang pas sekali dgn sub-consciousness customer d Indonesia yg alam bawah sadarnya emang cari barang paling murah dan yang paling suka obral bonus.
Gawat kan…nggak bisa diharapin soal edukasi market juga kan kalo begini…😬

Maka wajarlah jika booming start-up sekarang ini yang luar biasa menumbuhkan ekonomi nasional sektor riil dan mengentaskan banyak sekali pengangguran karena modal HP saja semua orang bisa jualan, pada akhirnya hanya akan menyisakan pemain yang tangguh. Yang bisa survivepun juga kemungkinan akan dibuat tunduk atau jika tak mau akan dibeli oleh pemain besar yang melihat prospek bagus dan atau saat mulai merasa ada ancaman dari piranha-piranha kecil ini…ughhrr

Pemain gedhe ini sebagian besar bisnis modelnya “everything store” alias menjual apapun, kapanpun dan bisa dimanapun. Artinya UMKM riilnya nanti lama-kelamaan akan bersaing juga dengan mereka. Mau di zoom in, diperas, difokuskan pada product/ jasa apapun…lama kelamaan akan berhadapan dengan pemain besar. Mereka dengan persenjataan yang komplit dan siap bakar uang dengan brutal demi memanjakan customer dan menguasai pasar, sementara UMKM harus super kreatif mencari celah untuk bisa survive dan eksis. Kita musti sadar ada kondisi yang demikian.

Trus kita musti gimana dong?

Mau nggak mau kita harus muter otak dan cari wangsit agar nemu bisnis model yang kreatif dan cari produk yang mereka susah garap. Biasanya yang local based dan agak rumit untuk dibikin skala industri. Jangan lupa USPnya jelas, positioning dan differensiasi yang kuat, dan value added yang susah ditiru.

Kita sih ngarep juga pemain gedhe ini pada sadar dan mau kasih conto bangun tradisi yg bagus utk persaingan yg sehat & mengandalkan kreatifitas, minimal seperti zappos lah yg jual sepatu lbh mahal dr harga pasar, tapi kasih contoh service optimal, bangun brand dan kultur perusahaan yang bagus. Tapi ya..sepertinya itu susah dalam waktu dekat ini. Malah kita musti siap-siap juga dalam waktu dekat bakalan kedatangan raksasa Amazon dan Alibaba yang pasti lebih super-edan lagi 😬.

Kita juga ngarep pemerintah yang selama ini tanpa sadar dibantu menumbuhkan ekonomi dan mengentaskan pengangguran sadar dan mau ambil peran lebih aktif. Misal fasilitasi dan akselerasi penumbuhan UMKMers ini dengan lebih baik dan jika perlu diproteksi seperti di Cina. Tapi ngarepin pemerintah ini ya kita gak boleh banget-banget. Tahu sendiri kan….

Be a foolish start-up and goblik CEO

Selanjutnya, kita juga nggak boleh cepet bangga dan merasa diatas angin jika sudah merasa nemu jurus ampuh meleverage bisnis kita dengan digital marketing. Why? ya kembali ke rumus dasar bahwa sebenarnya digital marketing kalau boleh dibilang ya hanyalah suatu metode dan washilah yg bisa bikin kita punya daya saing di era yg sangat cepat berubah & serba nggak pasti ini. Kita musti sadar bahwa yang namanya metode dan washilah pasti ada masa berlakunya.

Selain itu pastinya diluar sana masih banyak mastah digital marketer yg lebih pinter dan canggih dari kita. Pokoknya di dunia digital marketing ini sekali kita merasa cepet puas dan nyaman alias “trap in comfort zone”, itu bakalan bahaya darat, laut dan udara. Karena tahu-tahu besok semua sudah berubah dan kita sudah ketinggalan kereta. Nyesek kan gan…

Jadi ya mending kita ikuti saja sabdanya mbah Steve Jobs, kalau mau survive dan menang kita musti Stay Hungry, Stay Foolish. Selalu merasa GOBLIX !

Next, banyak juga start-up yang asyik jualan, tapi lupa bangun bisnis. Konon menurut kabar burung ababil, lebih dari 80% start-up adalah “only bakulan not bisnisman”. Yang penting jualan laku, dapet untung, trus bisa kumpulin cash. Saat tiba-tiba jurusnya sudah kedaluarsa, produknya saturated, atau ada saingan yg lebih canggih jadi mati gaya. Gawat kan gan..
Ya…jadinya seperti menumpuk kapas terus tiba-tiba tertiup angin…wuuzzsh. Jika sudah gitu baru nyadar betapa pentingnya mbangun fundamen bisnis yang strong dan nggak boleh cepet puas. Harus bikin yang kuat, panjang dan tahan lama.

Tapi ada juga sebaliknya gan, start-up yang dibikin niat awalnya emang buat skema nyari investor dan Go Goblik…eh Go Public. Kalau start-up yang gini emang lebih canggih dan sophisticated gan. Biasanya mereka demen fafifu soal valuasi bisnis, pitching preparation, bisnis model, value proposition, revenue stream, bla bla bla.

Tapi bagi newbie macam saya ini, baiknya kita mending focus dulu deh bikin bisnis yang bener ngga usah muluk-muluk. Lagian sekarang investor/ VC ngga semudah dulu, sudah semakin mature. Jadi ya susah gan…ngga cuma modal nekat dengan ide bisnis yang menurut kita canggih dan presentasi yang meyakinkan.
Apalagi IPO…beeuuh, liat sendiri saja buktinya sampai hari ini Marketplace nasional yang gedhe aja pada belum IPO kan? Padahal sudah berapa duit yang dibakar, meskipun bukan duitnya sendiri..hehe.

Jadi kesimpulanya, mendingan kita sejak awal niatkan bikin bisnis yang bener dulu, ada cashflow jelas, dan terus bertumbuh. Toh, itu aja nggak gampang to gan. Daripada ngomong muluk target 1 Trilyun sebulan, tapi bab sepele seperti kualitas CS atau tampilan webnya aja lupa gak keurus. Sampai programmer newbie liat tampilanya aja langsung bisa bilang ngga perform blas apalagi user friendly. Apalagi bagi customer 😬, apalagi investor, apalagi mau IPO? Hoey…wake up gan, wudhu dulu-wudhu dulu. Kecuali ente sekalian pivot bisnis, misal jadi selebpreneur ngisi pelatihan internet marketing dimana-mana, jelas itu lebih bisa diandalin cashflownya…hehe. Toh dalam bisnis semua sah-sah saja Dan agamapun juga nggak nglarang koq, semua boleh dilakukan asalkan ngga malu (dan ngga malu-maluin) eh ups…

Jadi mari kita benerin bisnis dulu. Bikin fundamen yang kuat. Ntar kalau mau pitching nyari investor, atau bahkan IPO ya buat latihan dulu aja, jangan serius-serius banget. Jangan jadikan pemain gedhe itu sebagai benchmark dulu. Dikiranya IPO itu simpel…ribet beud. Terlalu banyak aturan yang itu kadang nggak sejalan dengan spirit start-up yang harus lincah, cepet, fleksibel dan selalu berubah.

Salam Goblix !!!

Close Menu